Parah! Pupuk Bersubsidi Langka, Ratusan Petani di Kecamatan Sumur Mengeluh

Uncategorized233 Dilihat

ProNews, Pandeglang – Parah! Pupuk urea bersubsidi yang diedarkan pemerintah, saat ini raib dan sangat langka keberadaannya di Kecamatan Sumur, Kab Pandeglang, Prov Banten. Bahkan terkesan raib ditelan bumi.

Padahal kini telah memasuki masa musim tanam, sehingga hal tersebut membuat ratusan petani di Kecamatan Sumur mengeluh dan kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. Ratusan petani berharap, pemerintah turun tangan untuk mengatasi kendala yang kini petani hadapi.

Pantauan awak media dilapangan, beberapa wilayah saat ini terjadi kelangkaan pupuk urea. Ada indikasi, kartu tani diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.

Hal itu seperti yang diungkapkan ketua kelompok tani Kec sumur, Shr kepada Proaksi, Sabtu (12/12/2020). Shr mengaku, bahwa memang saat ini pupuk urea bersubsidi mengalami kelangkaan. Sehingga mengakibatkan para petani kesulitan, terlebih dimasa pendemi saat ini.

“Saat ini memang pupuk bersubsidi sangat langka, ga tau kemana raibnya,” kata Shr.

Ketua kelompok tani ini menambahkan, pihaknya sangat bingung untuk mencarikan solusi bagi para petani yang ada di wilayahnya. Apalagi saat ini sedang masa tanam, sehingga pupuk bersubsi sangat diperlukan.

“Benar, saat ini para petani tengah menjerit akibat sulitnya mencari pupuk bersubsidi. Meski mereka mempunyai kartu Tani, tapi mereka sulit mendapatkan jatah pupuk. yang ada mereka kini kebingungan dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan petani asal Desa Taman jaya, As. Menurutnya, petani di Desa Taman jaya makin disulitkan, karena posisi kios penyedia pupuk subsidi jaraknya sangat jauh. Sehingga membutuhkan biaya transportasi tinggi.

“Sudah jauh, pupuknya tidak ada lagi. Bayangkan saja, petani di Desa Taman Jaya harus membeli pupuknya ke kios yang ada di Panimbang dan Cibaliung. Jaraknya kan lumayan jauh,  mending kalau pupuknya ada, sudah jauh, saat sampai di kios, pupuknya kosong, kan repot,” terangnya.

Menurutnya, dengan adanya kartu tani, malah semakin menyulitkan para petani untuk mendapatkan pupuk. Sudah jatah pupuknya dikurangi, mencari pupuknya juga sulit.

Pupuk non subsidi, tambah As menambahkan menjadi solusi meski harganya mencekik. Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, lantaran didesak kebutuhan.

“Jika kita menggunakan pupuk non subsidi, jelas petani repot. Karena harganya cukup tinggi, dan tidak sebanding dengan harga gabah,” ungkapnya.

Kelangkaan pupuk bersubsidi di Desa Tunggal jaya, telah menjadi persoalan berat bagi para petani. Hal itu seperti penuturan perangkat desa Tunggal Jaya, Bayu. Menurutnya, pihaknya bingung saat ada beberapa petani yang datang ke desa untuk meminta solusi.

Dikatakan Bayu, kelangkaan pupuk ini bukan hanya menjadi kendala bagi para petugas penyuluh pertanian. Pihaknya pun sebagai perangkat desa, kini ikut pusing lantaran banyak petani yang datang meminta keterangan dari pemerintah desa.

“Kami tidak bisa mencarikan solusinya. Ini karena bukan ranah kami. Namun demikian, kami berupaya melakukan koordinasi dengan pihak terkait, untuk mencari solusinya ujarnya. ris/dad.

Komentar