Delapan Orang Hilang di Selat Sunda, Helikopter HR-3604 Dikerahkan

Umum3 Dilihat

Jakarta, Proaksinews – Operasi pencarian delapan orang yang masih hilang setelah sebuah speed boat dilaporkan hilang kontak di Perairan Selat Sunda terus diperluas. Tim SAR Gabungan kini mendapat dukungan pencarian dari udara dengan mengerahkan Helikopter Dauphin AS365 N3+ bernomor registrasi HR-3604.

Pengerahan helikopter tersebut diarahkan untuk memperkuat pemantauan wilayah yang dinilai strategis dalam operasi pencarian, termasuk kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Banten.

Dukungan udara menjadi penting dalam operasi di wilayah perairan terbuka. Dari udara, petugas memiliki cakupan pandang yang lebih luas untuk memantau permukaan laut dan membantu mengidentifikasi kemungkinan tanda-tanda keberadaan korban maupun objek yang berkaitan dengan speed boat yang hilang kontak.

Helikopter HR-3604 berangkat dari Lanud Atang Sendjaja (ATS) sekitar pukul 12.36 WIB. Dalam rencana operasinya, helikopter tersebut bergerak melalui sejumlah titik, yakni JIExpo Kemayoran, Pantai Carita, BPBD Banten, kemudian menuju area operasi sebelum kembali ke JIExpo Kemayoran.

Helikopter ini membawa tujuh personel, yakni Letkol Pnb Endrik Setyo Utomo, Kapten Pnb Dimas Aribowo, Serka Deatry Mulianto, Sertu Moch Farhan, Serda Eki P. Ginting, Pratu Ronni Bagus H, dan Prada Brillian Muammar.

Kehadiran unsur udara tersebut menambah kekuatan pencarian yang dilakukan Kantor Pencarian dan Pertolongan bersama unsur SAR Gabungan di lapangan.

Hilangnya kontak sebuah speed boat di Selat Sunda membuat operasi SAR menghadapi tantangan wilayah pencarian yang luas. Kondisi perairan, arus, cuaca, serta kemungkinan pergeseran posisi objek menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan pola pencarian.

Karena itu, operasi tidak hanya mengandalkan pencarian dari permukaan laut. Penggunaan helikopter memungkinkan penyisiran dilakukan dari perspektif berbeda sehingga informasi dari udara dapat menjadi bahan bagi tim di laut untuk menentukan titik pencarian berikutnya.

Kawasan Gunung Anak Krakatau juga menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam operasi tersebut. Pemantauan dilakukan untuk memperluas jangkauan pencarian sekaligus memperkuat koordinasi antarunsur SAR.

Operasi ini menunjukkan bahwa pencarian korban di laut membutuhkan kombinasi berbagai metode, mulai dari penyisiran permukaan, pemantauan udara hingga koordinasi dengan unsur pemerintah daerah dan instansi terkait.

Sampai saat ini, delapan orang masih dalam pencarian. Kantor Pencarian dan Pertolongan bersama seluruh unsur SAR Gabungan terus melakukan upaya pencarian dengan mengoptimalkan personel, armada, serta dukungan udara yang tersedia.

Fokus utama operasi tetap satu: mempersempit wilayah pencarian dan menemukan keberadaan delapan orang yang masih dinyatakan dalam pencarian setelah speed boat tersebut hilang kontak di Perairan Selat Sunda. (Rls/red).

Komentar