Jakarta, Proaksinews – Parsadaan Pomparan Raja Toga Manurung dohot Boru (Patambor) Indonesia akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Tahun 2026 di Sport Hall Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan yang diproyeksikan diikuti sekitar 400 peserta dari unsur Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Panuturi, pengurus wilayah, pengurus cabang, generasi muda, serta perwakilan perempuan Patambor tersebut menjadi forum strategis untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja sekaligus merumuskan arah organisasi hingga akhir masa kepengurusan 2029.
Ketua Umum DPP Patambor Indonesia, Dr. Jenry Cardo Manurung, S.E., M.M., mengatakan Rakernas II tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga momentum untuk mengukur efektivitas program yang telah ditetapkan dalam Rakernas I Tahun 2024.
“Rakernas II menjadi ruang evaluasi terhadap program kerja yang telah disusun sebelumnya. Selain itu, forum ini akan membahas sejumlah program baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan organisasi,” ujar Jenry.
Menurutnya, seluruh pembahasan dalam Rakernas tetap mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Garis-Garis Besar Haluan Kebijakan Organisasi (GBHKO), serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi (APBO) yang telah ditetapkan dalam Musyawarah Nasional VII Patambor Indonesia di Medan pada 15 Juni 2024.
Rakernas II juga akan dirangkaikan dengan selebrasi pelantikan Ketua Umum Patambor Indonesia Antar Waktu. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penyampaian terbuka kepada keluarga besar Pomparan Raja Toga Manurung dan masyarakat mengenai keberlanjutan kepemimpinan organisasi periode 2024–2029.
Pergantian kepemimpinan dilakukan setelah Ketua Umum sebelumnya, Drs. Rusman Manurung, M.Pd., tidak dapat melanjutkan tugas organisasi karena kondisi kesehatan dan dinyatakan berhalangan tetap.
Berdasarkan mekanisme yang diatur dalam AD/ART Patambor Indonesia, Jenry Cardo Manurung yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua Umum I kemudian melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai Ketua Umum hingga berakhirnya masa bakti kepengurusan pada 2029.
Proses pergantian dan pelantikan Ketua Umum Antar Waktu tersebut telah dilaksanakan secara internal pada 20 Maret 2026 oleh Dewan Panuturi bersama Dewan Pimpinan Pusat Patambor Indonesia.
Selain penguatan kepemimpinan, Rakernas II juga menjadi ruang konsolidasi untuk menyesuaikan struktur kepengurusan dengan kebutuhan organisasi saat ini. Sejumlah figur baru disebut akan memperkuat bidang Informasi, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Teknologi, serta Dewan Pakar.
Penguatan struktur tersebut dinilai penting karena organisasi berbasis kekerabatan dan budaya juga dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, pola komunikasi digital, serta kebutuhan generasi muda.
“Rakernas ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara pusat, wilayah, dan cabang, sekaligus membangun sistem organisasi yang lebih terbuka, responsif, dan berkelanjutan,” kata Jenry.
Panitia menyediakan sekitar 400 kursi bagi peserta yang hadir secara langsung. Pembatasan jumlah peserta dilakukan untuk menjaga efektivitas pelaksanaan kegiatan, mengingat tingginya antusiasme anggota dari berbagai daerah.
Meski kapasitas kehadiran langsung dibatasi, Patambor Indonesia menerapkan sistem hybrid. Peserta yang tidak dapat hadir secara fisik tetap dapat mengikuti jalannya Rakernas melalui platform Zoom.
Penerapan sistem hybrid tersebut menjadi bagian dari langkah transformasi digital yang diusung organisasi untuk memperluas partisipasi anggota sekaligus memperkuat konektivitas antara pengurus di tingkat pusat, wilayah, dan cabang.
Mengusung tema “Meneguhkan Jati Diri Patambor Indonesia – Manurung Sipolin-polin”, Rakernas II diharapkan menjadi momentum memperkuat rekonsiliasi, persatuan, dan kebersamaan di tengah dinamika organisasi.
Melalui forum nasional tersebut, Patambor Indonesia menargetkan lahirnya sejumlah strategi baru, mulai dari peningkatan sinergi antarpengurus, penguatan identitas dan nilai budaya, optimalisasi teknologi digital, hingga penyusunan program yang lebih relevan dengan tantangan masa depan.
Rakernas II juga diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menghasilkan kebijakan dan program kerja yang dapat diterapkan secara nyata oleh seluruh struktur organisasi.
Dengan konsolidasi kepemimpinan, penguatan struktur, serta pemanfaatan teknologi, Patambor Indonesia berupaya membangun organisasi yang tetap berakar pada nilai budaya, namun mampu bergerak lebih terbuka dan adaptif menghadapi perubahan zaman. (Red).






Komentar