Tak Dapat Program BPUM, Pengrajin Kerupuk Dangdeur Jalan “Merangkak”

Daerah227 Dilihat

ProNews, Pandeglang – Prihatin apa yang dialami pengrajin kerupuk di Kampung Srimulya, Desa Mekarsari. Pasalnya, pengrajin ini tidak mendapatkan Bantuan Pelaku Usaha Mikro (BPUM).

Kendati tidak mendapatkan program BPUM yang digelontorkan Presiden Joko Widodo tersebut, pengrajin kerupuk ‘Dangdeur’ asal Kabupaten Pandeglang, Prov Banten itu tetap bersyukur, sebab usahanya tetap berjalan meski dengan cara “merangkak”.

Hal itu seperti yang dialami seorang ibu beranak dua, yang akrab dipanggil dengan nama Ibu Nurmiah, seorang isteri dari suami bernama Herman pekerja buruh bangunan saat disambangi ProaksiNews, Rabu (11/11/2020) di kediamannya.

Warga Kampung Srimulya, Desa Mekarsari, Kecamatan Panimbang itu, mengaku belum pernah menerima program bantuan apa pun dari pemerintah meski kondisi status sosialnya masih terbilang keluarga pra sejahtera.

“Orang-orang pada ramai dapat bantuan uang cair Rp.2.juta 400ribu. Tetapi Kami disini, yang juga mengajukan buktinya tak dapat sama sekali,” kata ibu Nurmiah dan tetangganya yang ikut membantu membuat kerupuk dangdeur.

Bukan hanya Ibu Nurmiah, mirisnya para Ibu yang bermukim di Kampung Srimulya, Desa Mekarsari, Kecamatan Panimbang, Kab Pandeglang juga tidak mendapatkan bantuan yang menjadi program pemerintah pusat tersebut.

“Kami disini tidak pernah mendapat bantuan sembako, PHK, BST, BLT dan entah apa lagi itu namanya, seperti orang-orang tiap bulan nerima bantuan dari pemerintah,” kata sejumlah ibu warga Kampung Srimulya.

Bagi ibu Nurmiah, yang sudah setahun berjalan membuat kerupuk dangdeur, nampaknya tetap sabar menggeluti usahanya meski harus “merangkak” demi membantu suaminya yang kadang ada pekerjaan dan kadang pula nganggur.

“Yang penting kami sekeluarga bisa makan sehari-hari,” tutur Ibu Nurmiah.

Kerupuk dangdeur yang dibuatnya itu seratus persen dari bahan dasar umbi kayu atau singkong. Prosesnya singkong di parut lalu dicampur dengan aci atau tepung tapioka, lalu diberi bumbu penyedap rasa dan dibungkus pakai daun pisang. Kemudian di kukus, setelah itu ditiriskan lalu di iris-iris jadi kerupuk terus dijemur hingga kering.

Kerupuk dangdeur buatan ibu Nurmiah itu rasanya sedap dan renyah, namun belum banyak di produksi karena faktor modal. Usaha ini sangat bisa dikembangkan dan tidak sulit memasarkannya, bila di dukung dengan modal yang memadai.

“Alhamdulillah selama ini kerupuk dangdeur laku terjual habis, meski pembelinya baru sekampung. Tetapi kadang, ada pesanan dari luar desa. Lumayanlah Pak, buat makan sehari-hari,” imbuh Ibu Nurmiah.  Bud.

Komentar